Luqmān 14) Dalam ayat ini Allāh menggandengkan perintah untuk bersyukur kepada Allāh dengan perintah untuk bersyukur/berbakti/berterima kasih kepada kedua orang tua. Kemudian, Allāh menutup ayat tersebut dengan mengatakan, "Ingatlah, kalian akan dikembalikan kepada-Ku". Artinya, kalian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allāh ﷻ
Orangtua memiliki kewajiban dalam mendidik dan mengasuh anak dengan tuntutan agama. Hal tersebut harus dilakukan agar anak bisa menjadi sosok yang shaleh. Namun, tidak semua orangtua bisa melakukan tanggung jawab tersebut. Masih banyak orangtua shaleh namun memiliki anak yang suka berbuat maksiat. Hal ini bisa terjadi karena faktor dari si anak sendiri dan lingkungan mereka. Hal ini berpotensi membawa anak masuk ke jurang neraka di akhirat kelak. Namun, tidak hanya akan menyeret dirinya sendiri, anak tersebut juga bisa membuat orangtua yang sudah divonis akan masuk surga akhirnya batal dan justru terjerumus ke dalam neraka. Golongan orangtua bagaimanakah yang akan mengalami nasib seperti itu? Berikut informasi selengkapnya. Orangtua yang shaleh dan telah divonis akan masuk ke dalam surga bisa batal memasukinya dan justru terjerumus ke dalam neraka adalah orangtua yang melihat anaknya berbuat maksiat namun ia tidak melarang perbuatan tersebut. “Telah dikabarkan kepada kami bahwa seorang anak akan tergantung di leher ayahnya pada hari kiamat nanti. Lalu dia berkata Wahai Rabbku, ambillah hakku dari orang yang menzhalimiku ini!’ Sang ayah berkata Bagaimana aku menzhalimimu, sedangkan aku telah memberimu makan dan pakaian?’ Sang anak berkata Benar, engkau telah memberiku makan dan pakaian, tetapi engkau melihatku melakukan maksiat dan engkau tidak melarangku.’” Dikutip dari Majalah Az-Zahur, Sya’ban 1420 H Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Mengenai tafsir dari ayat di atas, Qatadah berkata “Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan laranglah mereka dari perbuatan maksiat kepada-Nya. Bantulah mereka untuk mengerjakan perintah Allah. Apabila kamu melihat mereka melakukan kemaksiatan, maka tegurlah!” Ibnu Jarir juga berkata “Kita wajib untuk mengajarkan anak-anak kita tentang agama Islam, kebaikan dan adab!” Sedangkan Ibnu Umar berkata “Didiklah anakmu, karena kelak kamu akan ditanya tentang pendidikan dan pengajaran seperti apa yang telah kamu berikan kepada anakmu. Anakmu juga akan ditanya tentang bagaimana dia berbakti dan berlaku taat kepadamu.” Dari tafsir yang sudah dijelaskan oleh para mufassir di atas, jelaslah bahwanya Allah SWT memberikan perintah tegas kepada para muslim untuk senantiasa menjaga keluarganya dari siksaan api neraka. Caranya adalah dengan memperhatikan pendidikan agamanya serta memantau setiap perbuatan yang tersebut merupakan sebuah kewajiban yang apabila tidak dipatuhi maka konsekuensinya akan diterima di akhirat kelak. Hal senada juga dapat difahami dari hadits shahih yang berbunyi “Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” HR Bukhari dan Muslim Dari hadist di atas mengisyaratkan bahwa apabila ada orangtua yang mendidik anaknya dengan tidak baik, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukannya di dunia tersebut saat hari kiamat kelak. Demikianlah informasi mengenai orangtua yang batal masuk surga karena anaknya. Oleh karena itu, sudah seharusnya sebagai orangtua mendidik buah hati dengan ajaran agama. Agar anak tersebut menjadi sosok yang shaleh dan membawa kita masuk ke dalam surga, bukan menjerumuskan ke dalam api neraka karena perbuatan mereka.
Orangtua -ayah ataupun ibu- yang membunuh anaknya tidak wajib dikenai qishas. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah saw bersabda, "Seorang ayah tidak diqishas karena membunuh anaknya." Status ibu sama dengan ayah dalam masalah keturunan.
Masuk surga, tentu menjadi impian kita, bukan? Ya, kita ketahui bahwasanya surga merupakan tempat yang paling indah sepanjang masa. Tak ada yang bisa menandingi keindahannya. Bahkan, dunia pun tidak ada apa-apanya dibandingkan saja, masuk ke dalam surga itu tidaklah mudah. Kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tetap selalu berada dalam jalan kebenaran. Al-Quran dan sunnah-lah penuntun jalan Anda, ternyata orang yang sudah berada di jalan kebenaran pun, bisa jadi tidak bisa masuk surga. Seperti halnya yang dirasakan oleh beberapa orangtua. Dimana mereka yang awalnya masuk surga, tidak jadi karena anaknya. Memang, apa ya sebabnya?Orangtua yang shaleh dan telah divonis akan masuk ke dalam surga bisa batal memasukinya dan justru terjerumus ke dalam neraka adalah orangtua yang melihat anaknya berbuat maksiat namun ia tidak melarang perbuatan tersebut.“Telah dikabarkan kepada kami bahwa seorang anak akan tergantung di leher ayahnya pada hari kiamat nanti. Lalu dia berkata, Wahai Rabbku, ambillah hakku dari orang yang menzhalimiku ini!’ Sang ayah berkata, Bagaimana aku menzhalimimu, sedangkan aku telah memberimu makan dan pakaian?’ Sang anak berkata, Benar, engkau telah memberiku makan dan pakaian, tetapi engkau melihatku melakukan maksiat dan engkau tidak melarangku’,” Dikutip dari Majalah Az-Zahur, Sya’ban 1420 H.Di dalam Al-Quran, Allah Ta’ala telah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,” QS. At-Tahriim 66.Mengenai tafsir dari ayat di atas, Qatadah berkata, “Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan laranglah mereka dari perbuatan maksiat kepada-Nya. Bantulah mereka untuk mengerjakan perintah Allah. Apabila kamu melihat mereka melakukan kemaksiatan, maka tegurlah!” Ibnu Jarir juga berkata, “Kita wajib untuk mengajarkan anak-anak kita tentang agama Islam, kebaikan dan adab!” Sedangkan Ibnu Umar berkata, “Didiklah anakmu, karena kelak kamu akan ditanya tentang pendidikan dan pengajaran seperti apa yang telah kamu berikan kepada anakmu. Anakmu juga akan ditanya tentang bagaimana dia berbakti dan berlaku taat kepadamu.”Dari tafsir yang sudah dijelaskan oleh para mufassir di atas, jelaslah bahwa Allah Ta’ala memberikan perintah tegas kepada para muslim untuk senantiasa menjaga keluarganya dari siksaan api neraka. Caranya adalah dengan memperhatikan pendidikan agamanya serta memantau setiap perbuatan yang dilakukannya. Hal tersebut merupakan sebuah kewajiban yang apabila tidak dipatuhi maka konsekuensinya akan diterima di akhirat senada juga dapat difahami dari hadis shahih yang berbunyi, “Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya,” HR. Bukhari dan Muslim.Dari hadis di atas mengisyaratkan bahwa apabila ada orangtua yang mendidik anaknya dengan tidak baik, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukannya di dunia tersebut saat hari kiamat kelak.
Orangyang terkena penyakit ujub akan memandang remeh dosa-dosa yang dilakukannya dan mengang-gapnya bagai angin lalu. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits: "Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan.
Jakarta - Perbuatan yang buruk tentu akan diganjar dengan keburukan pula. Demikian pula yang terjadi ketika anak berbuat durhaka kepada kedua orang tua. Bisa jadi kunci masuk neraka. Islam membawa ajaran yang penuh cinta dan kasih sayang. Termasuk kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya yang menjadi kewajiban umat muslim. Ketika seorang anak melakukan durkaha kepada orang tua maka murka Allah SWT akan datang SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 23-24 Surat Al-Isra ayat 23۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًاArab-Latin Wa qaḍā rabbuka allā ta'budū illā iyyāhu wa bil-wālidaini iḥsānā, immā yabluganna 'indakal-kibara aḥaduhumā au kilāhumā fa lā taqul lahumā uffiw wa lā tan-har-humā wa qul lahumā qaulang karīmāArtinya Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang Al-Isra Ayat 24وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًاArab-Latin Wakhfiḍ lahumā janāḥaż-żulli minar-raḥmati wa qur rabbir-ḥam-humā kamā rabbayānī ṣagīrāArtinya Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Al Fath bab Uququl Walidain, menjelaskan maksud uququl walidaini adalah apa saja yang dapat menyakiti kedua orang tua yang dilakukan anaknya. Perkara ini meliputi perbuatan dan perkataan kecuali perbuatan syirik atau melakukan maksiat yang tidak ditentukan sebagai dosa kepada orang tua.Hubungan antara orang tua dan anak terkadang tidak selalu berjalan mulus. Ada saja konflik yang menyebabkan renggangnya hubungan orang tua dan anak. Namun sebaiknya, masing-masing saling introspeksi diri agar tidak merugikan di dunia maupun di buku Keajaiban Doa & Ridho Ibu oleh Mutia Mutmainnah, ada 11 perbuatan yang termasuk durhaka kepada orang tua1. Menyakiti fisik2. Menyakiti perasaannya3. Berkata 'Ah' dan mengeraskan suara4. Membicarakan keburukan orang tua5. Mencaci atau menjadi sebab dicaci orang6. Membelalakkan mata7. Bakhil8. Sangat membebani9. Tidak peduli dan menjauhi orang tua10. Tidak mengakui orang tua11. Berlaku zalim kepada orang tuaDiriwayatkan sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda"Siapa membuat kesedihan hati ibu dan ayahnya, maka dia telah durhaka kepada keduanya," HR. Thabrani dari Ja'far bin Muhammad As Sholah.Hindari melakukan perbuatan yang melukai hati orang tua. Bagaimanapun juga, doa orang tua termasuk dalam doa yang diijabah Allah SWT, sebagaimana hadits Rasulullah SAW"Tiga orang yang tidak akan tertolak doanya, yaitu doa orang tua bagi anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir." HR Al-Baihaqy. Simak Video "Syakir Daulay Akhirnya Pulang dan Minta Maaf ke Orang Tua" [GambasVideo 20detik] dvs/erd
Diamenjawab: "Sesungguhnya kalian akan tetap tinggal [di neraka ini]". [Az-Zuhruf: 77]. Para penghuni neraka menyeru, mereka meminta air dan makanan kepada penghuni Jannah (Surga) karena haus dan lapar yang sangat, penghuni Jannah menjawab pertanyaan: [mereka yang berada dalam neraka] bahwa Allah haromkan bagi keduanya atas orang-orang kafir.
Sebab-sebab Anak Masuk Neraka Salah satu perbuatan dosa besar yang sangat dimurkai oleh Allah Ta’ala adalah durhaka kepada kedua orang tua. Oleh karena itu Islam mengingatkan juga mengajarkan untuk senantiasa memuliakan dan berlaku baik kepada kedua orang tua. Memuliakan orangtua menjadi salah satu sebab seorang anak menjadi ahli surga, dan bersikap durhaka kepada kedua orang tua menyebabkan seseorang menjadi penghuni neraka. Berikut merupakan bentuk-bentuk durhaka kepada kedua orang tua yang disebutkan dalam Alquran dan hadis. Pertama, berkata keras dan kasar. Berkata keras dan kasar kepada orang tua merupakan salah satu bentuk durhaka yang dilarang dalam Islam. Hal ini sesuai dengan Al Quran surat Al-Isra ayat 23, وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” Kedua, membuat bersedih atau menangis. Membuat orang tua bersedih sampai menangis karena perbuatan atau ucapan anaknya juga salah satu bentuk dari kedurhakaan. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shalallahu alaihi wasallam, لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَاقٌ وَلاَ مُدْمِنُ خَمْرٍ وَلاَ مُكَذِّبٌ باْلقَدَرِ “Tidak masuk surga anak yang durhaka, peminum khamr minuman keras dan orang yang mendustakan qadar” HR. Ahmad 6/441 dan di Hasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahihnya 675. Tiga, tidak patuh. Dengan alasan kesibukan pekerjaan atau sudah punya keluarga sendiri, banyak anak yang kemudian mulai kurang perhatian kepada kedua orang tuanya. Hingga tidak sedikit kasus anak yang menelantarkan orangtua, padahal hal tersebut termasuk bentuk kedurhakaan yang nyata. Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, إِنَّاللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ اْللأَمَّهَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتِ وَوَأْدَ اْلبَنَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ، وَكَشْرَةَ اْلسُّؤَالِ، إِضَاعَةَ اْلمَالِ “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan minta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta menghamburkan kekayaan.” HR. Bukhari dalam Fathul Baari 10/405 No. 5975, Muslim No. 1715 & 912. Tidak menghormati orang tua juga masuk dalam kategori kedurhakaan seorang anak. Allah menganjurkan seorang anak agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Hal ini sebagaimana termuat dalam Al Quran, “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” QS. An-Nisa 36. Shabirin
Kemudianbaru diperlihatkan umat Beliau sebanyak 70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab. tidak dapat membedakan antara hadits yang dimilikinya dengan hadits orang lain, yang disebabkan usia tua atau kitab miliknya hilang dan perbuatan (yang) disebabkan ketuaan, kecelakaan, buta, sakit karena kematian anaknya, pencurian
Assalamu alaikum wr. terhormat redaksi Bahtsul Masail NU Online. Kami mendengar salah seorang ustadz yang menyatakan bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad SAW termasuk penghuni neraka. Bagaimana pandangan agama perihal ini? Terima kasih atas penjelasannya. Wassalamu alaikum wr. wb. Khalid/JakartaJawabanAssalamu alaikum wr. dan pembaca yang budiman. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya untuk kita semua. Pertama sekali, kami harus mengatakan bahwa ini merupakan masalah ikhtilaf di kalangan pendapat perihal nasib orang tua Nabi Muhammad SAW tidak hanya melibatkan satu bidang kajian keislaman. Ini merupakan masalah pelik yang melibatkan perbedaan pendapat di kalangan ahli hadits, ahli kalam, dan juga ahli tafsir. Bahkan di kalangan ahli tafsir sendiri perbedaan pendapat juga tidak bisa ulama yang mengatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW adalah penduduk neraka kelak di akhirat. Mereka menyandarkan pendapatnya pada dua hadits yang diriwayatkan di dalam kitab Jamuis Shahih Muslim sebagai riwayat Anas bin Malik RA menceritakan sebagai أنس * أن رجلا قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم يا رسول الله أين أبي قال في النار قال أَنّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللّهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ فِي النّارِ. فَلَمّا قَفّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النّارِArtinya, "Salah seorang sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, di manakah kini ayahku?’ Nabi Muhammad SAW menjawab, Di neraka.’ Ketika orang itu berpaling untuk pergi, Nabi Muhammad SAW memanggilnya lalu berkata, Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka,’” HR Muslim.Sementara hadits riwayat Abu Hurairah RA yang mendukung pendapat pertama ini berbunyi sebagai النّبِيّ صلى الله عليه وسلم قَبْرَ أُمّهِ. فَبَكَىَ وَأَبْكَىَ مَنْ حَوْلَهُ. فَقَالَ اسْتَأْذَنْتُ رَبّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأذِنَ لِيArtinya, "Nabi Muhammad SAW menziarahi makam ibunya. Di sana Beliau SAW menangis sehingga para sahabat di sekitarnya turut menangis. Rasulullah SAW mengatakan, Kepada Allah Aku sudah meminta izin untuk memintakan ampun bagi ibuku, tetapi Allah tidak mengizinkanku. Lalu Aku meminta kepada-Nya agar Aku diizinkan menziarahi makam ibuku, alhamdulillah Dia mengizinkanku," HR Muslim.Oleh sebagian ulama hadits, dua riwayat ini dipahami secara harfiah. Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Muslim yang ditulisnya secara jelas memaknai hadits tersebut secara رجلا قال يا رسول الله أين أبي قال في النار فلما قفى دعاه فقال إن أبي وأباك في النار فيه أن من مات على الكفر فهو في النار ولا تنفعه قرابة المقربين وفيه أن من مات في الفترة على ما كانت عليه العرب من عبادة الأوثان فهو من أهل النار وليس هذا مؤاخذة قبل بلوغ الدعوة فان هؤلاء كانت قد بلغتهم دعوة ابراهيم وغيره من الأنبياء صلوات الله تعالى وسلامه عليهم وقوله صلى الله عليه و سلم أن أبي وأباك في النار هو من حسن العشرة للتسلية بالاشتراك في المصيبة ومعنى قوله صلى الله عليه و سلم قفي ولى قفاه منصرفا Artinya, “Pengertian hadits Seorang lelaki bertanya, Wahai Rasulullah, di manakah kini ayahku?’ dan seterusnya, menunjukkan bahwa orang yang meninggal dalam keadaan kufur bertempat di neraka. Kedekatan kerabat muslim tidak akan memberikan manfaat bagi mereka yang mati dalam keadaan kafir. Hadits ini juga menunjukkan bahwa mereka yang meninggal dunia di masa fatrah masa kosong kehadiran rasul dalam keadaan musyrik yakni menyembah berhala sebagaimana kondisi masyarakat Arab ketika itu, tergolong ahli neraka. Kondisi fatrah ini bukan berarti dakwah belum sampai kepada mereka. Karena sungguh dakwah Nabi Ibrahim AS, dan para nabi lainnya telah sampai kepada mereka. Sedangkan ungkapan Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka’ merupakan ungkapan solidaritas dan empati Rasulullah SAW yang sama-sama terkena musibah seperti yang dialami sahabatnya perihal nasib orang tua keduanya. Ungkapan Rasulullah SAW Ketika orang itu berpaling untuk pergi’ bermakna beranjak meninggalkan Rasulullah SAW.” Lihat Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj, Dar Ihyait Turats Al-Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1392 H. Sementara ulama lain menilai hadits ini telah dimansukh direvisi oleh riwayat Sayidatina Aisyah RA. Dengan demikian kedua orang tua Rasulullah SAW terbebas sebagai penghuni neraka seperti keterangan hadits yang telah dimansukh seperti keterangan Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam karyanya Ad-Dibaj Syarah Shahih Muslim Ibnil أبو بكر بن أبي شيبة وزهير بن حرب قالا حدثنا محمد بن عبيد عن يزيد بن كيسان عن أبي حازم عن أبي هريرة قال زار النبي صلى الله عليه و سلم قبر أمه الحديث قال النووي هذا الحديث وجد في رواية أبي العلاء بن ماهان لأهل المغرب ولم يوجد في روايات بلادنا من جهة عبد الغافر الفارسي ولكنه يوجد في أكثر الأصول في آخر كتاب الجنائز ويضبب عليه وربما كتب في الحاشية ورواه أبو داود والنسائي وابن ماجة قلت قد ذكر بن شاهين في كتاب الناسخ والمنسوخ أن هذا الحديث ونحوه منسوخ بحديث إحيائها حتى آمنت به وردها الله وذلك في حجة الوداع ولي في المسألة سبع مؤلفاتArtinya, “Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW menziarahi makam ibunya dan seterusnya. Menurut Imam An-Nawawi, Hadits ini terdapat pada riwayat Abul Ala bin Mahan penduduk Maghrib, tetapi tidak terdapat pada riwayat orang-orang desa kami dari riwayat Abdul Ghafir Al-Farisi. Namun demikian hadits ini terdapat di kebanyakan ushul pada akhir Bab Jenazah dan disimpan. Tetapi terkadang ditulis di dalam catatan tambahan. Hadits ini diiwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.’ Hemat saya jelas, Ibnu Syahin menyebutkan di dalam kitab Nasikh dan Mansukh bahwa hadits ini dan hadits yang semakna dengannya telah dimansukh oleh hadits yang menerangkan bahwa Allah menghidupkan kembali ibu Rasulullah sehingga ia beriman kepada anaknya, lalu Allah mewafatkannya kembali. Ini terjadi pada Haji Wada’. Perihal masalah ini saya telah menulis tujuh kitab,” Lihat Abdurrahman bin Abu Bakar, Abul Fadhl, Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Dibaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj.Kedua, ulama yang mengatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah terbebesa dari siksa neraka karena menurut mereka, kedua orang tua Rasulullah terbilang ahli fatrah. Kalangan Asy-ari menempatkan ahli fatrah sebagai kalangan yang terbebas dari tuntutan tauhid karena tidak ada rasul yang membimbing menurut kalangan Muktazilah dan sebagian ulama Maturidiyah, orang-orang ahli fatrah yang wafat dalam keadaan musyrik termasuk penghuni neraka. Karena bagi mereka, manusia tanpa diutus seorang rasul sekalipun semestinya memilih tauhid melalui daya akal yang dianugerahkan Allah kepadanya. Berikut ini perbedaan pendapat yang bisa kami هل يكتفي بدعوة أي رسول كان ولو آدم أو لا بد من دعوة الرسول الذي أرسل إلى هذا الشخص. والصحيح الثاني. وعليه فأهل الفترة ناجون وإن غيروا و بدلوا وعبدوا الأوثان. وإذا علمت أن أهل الفترة ناجون علمت أن أبويه صلى الله عليه وسلم ناجيان لكونهما من أهل الفترة بل هما من أهل الإسلام لما روي أن الله تعالى أحياهما بعد بعثة النبي صلى الله عليه وسلم فآمنا به... ولعل هذا الحديث صح عند بعض أهل الحقيقة... وقد ألف الجلال السيوطي مؤلفات فيما يتعلق بنجاتهما فجزاه الله “Ulama berbeda pendapat perihal ahli fatrah. Apakah kehadiran rasul yang mana saja sekalipun Nabi Adam AS yang jauh sekali dianggap cukup bahwa dakwah telah sampai bagi masyarakat musyrik Mekkah atau mengharuskan rasul secara khusus yang berdakwah kepada kaum tertentu? Menurut kami, yang shahih adalah pendapat kedua. Atas dasar itu, ahli fatrah selamat dari siksa neraka meskipun mereka mengubah dan mengganti keyakinan mereka, lalu menyembah berhala. Kalau ahli fatrah itu terbebas dari siksa neraka, tentu kita yakin bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari neraka karena keduanya termasuk ahli fatrah. Bahkan keduanya termasuk pemeluk Islam berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Allah menghidupkan keduanya setelah Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai rasul sehingga keduanya berkesempatan mengucapkan dua kalimat syahadat. Riwayat hadits ini shahih menurut sebagian ahli hakikat. Syekh Jalaluddin As-Suyuthi menulis sejumlah kitab terkait keselamatan kedua orang tua Rasulullah SAW di akhirat. Semoga Allah membalas kebaikan Syekh Jalaluddin atas karyanya,” Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Baijuri ala Matnis Sanusiyyah, Dar Ihya’il Kutub Al-Arabiyyah, Indonesia, Halaman 14.Pandangan Asy-ariyah seperti Syekh Al-Baijuri ini kemudian dikutip oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam karyanya Nuruz Zhalam Syarah Aqidatil Awam sebagai الباجوري فالحق الذي نلقى الله عليه أن أبويه صلى الله عليه وسلم ناجيان على أنه قيل أنه تعالى أحياهما حتي آمنا به ثم أماتهما لحديث ورد في ذلك وهو ما روي عن عروة عن عائشة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سأل ربه أن يحيي له أبويه فأحياهما فآمنا به ثم أماتهما. قال السهيلي والله قادر على كل شيء له أن يخص نبيه بما شاء من فضله وينعم عليه بما شاء من “Syekh Ibrahim Al-Baijuri mengatakan, Yang benar adalah bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari siksa neraka berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Allah SWT menghidupkan kembali kedua orang tua Rasulullah SAW sehingga keduanya beriman kepada anaknya, lalu Allah SWT mewafatkan kembali keduanya. Sebuah riwayat hadits dari Urwah dari Sayidatina Aisyah RA menyebutkan bahwa Rasululah SAW memohon kepada Allah SWT untuk menghidupkan kedua orang tuanya sehingga keduanya beriman kepada anaknya, lalu Allah SWT mewafatkan kembali keduanya. As-Suhaili berkata bahwa Allah maha kuasa atas segala sesuatu, termasuk mengistimewakan karunia-Nya dan melimpahkan nikmat-Nya kepada kekasih-Nya Rasulullah SAW sesuai kehendak-Nya,” Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Syarah Nuruzh Zhalam ala Aqidatil Awam, Karya Toha Putra, Semarang, Tanpa Tahun, Halaman 27.Pandangan Asy-ariyah ini didukung oleh Surat Al-Isra ayat 15. Menurut mereka, kedua orang tua Rasulullah SAW terbilang ahli fatrah. Ahli fatrah terbebas dari hokum sebagaimana keterangan Surat Al-Isra ayat 15. Berikut ini kami kutip Tafsir As-Sa’di perihal Surat Al-Isra ayat اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا . أي هداية كل أحد وضلاله لنفسه لا يحمل أحد ذنب أحد، ولا يدفع عنه مثقال ذرة من الشر، والله تعالى أعدل العادلين لا يعذب أحدا حتى تقوم عليه الحجة بالرسالة ثم يعاند الحجة. وأما من انقاد للحجة أو لم تبلغه حجة الله تعالى فإن الله تعالى لا يعذبه. واستدل بهذه الآية على أن أهل الفترات وأطفال المشركين، لا يعذبهم الله حتى يبعث إليهم رسولا لأنه منزه عن “’Siapa saja yang menerima petunjuk, sungguh ia menunjuki dirinya sendiri. Tetapi siapa yang tersesat, maka sunguh ia menyesatkan dirinya sendiri. Seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain. Kami juga takkan menyiksa hingga Kami mengutus seorang rasul,’ Surat Al-Isra Ayat 15. Maksudnya, petunjuk seseorang dan kesesatan untuk dirinya sendiri. Seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain. Seseorangpun tidak akan bisa menghapus dosa orang lain meski sekecil zarrah. Allah adalah seadil-adilnya hakim. Ia takkan menyiksa seorang pun hingga Dia menegakkan hujjah kerasulan, kemudian yang bersangkutan mengingkarinya. Sedangkan orang yang tunduk pada hujjah kerasulan atau hujjah Allah itu belum sampai kepadanya, maka Allah takkan menyiksanya. Ayat ini menjadi dalil bahwa ahli fatrah dan anak-anak orang musyrik takkan disiksa oleh Allah hingga Ia mengutus seorang rasul-Nya. Karena Allah mahasuci untuk berlaku aniaya,” Lihat Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Taysirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Beirut, Muassasatur Risalah, 2002 M/1423 H, halaman 455.Dari pelbagai keterangan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa ulama berbeda pendapat perihal ini. Hanya saja untuk warga NU yang mengakui pandangan Asy-ari dan Maturidi, kami menyarankan untuk mengikuti pandangan guru kita yang terdekat, yaitu Syekh Ibrahim Al-Baijuri dan Syekh M Nawawi Banten. Di samping mendalami fikih, keduanya juga memiliki otoritas untk berbicara masalah kalam melalui karya-karya keduanya di bidang kalam. Pendapat kedua dipilih untuk menjaga adab kita terhadap Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bis kami jangan sampai perbedaan pendapat dalam masalah ini menyebabkan kita sesama orang awam saling menyalahkan satu sama lain atau bahkan meremehkan ulama besar yang berbeda pendapat dengan kita. Kalau ulama berbeda pendapat, biarkan saja. Itu urusan para ulama. Kita sebagai orang awam baiknya mengambil diam jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para muwaffiq ila aqwamith thariqWassalamu ’alaikum wr. wb.Alhafiz Kurniawan
Masuksurga harus menjadi satu cita-cita dan harapan terbesar kita. Sehingga setiap ada kesempatan yang berharga kita memanfaatkannya untuk memasukkan ke surga. Berikut adalah hadits-hadits shahih tentang amalan-amalan yang oleh kebanyakan orang dianggap sepele namun karena keimanan dan tauhid yang bersih dari pelakunya serta keyakinan akan
Bagi seorang mukmin, berprasangka baik husnudh dhann kepada Allah amatlah besar faedahnya, bahkan mampu menyelamatkan dirinya dari siksa api neraka. Contohnya seperti yang dikisahkan dalam salah satu hadits sahih. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan mauqûf sampai Ibnu Abbas. Ibnu Katsir berkomentar bahwa sanadnya sahih lihat Tafsîr Ibn Katsîr, jilid 6, hal. 97, Surat al-Furqan, ayat 12; al-Nihâyah fî al-Fitan wa al-Malâhim, hal. 221. Meski statusnya mauqûf sampai Ibnu Abbas, tetapi dihukumi marfû. Sebab Ibnu Abbas tidak mungkin menyampaikannya berdasarkan akal dan logika nalar semata. Ia menuturkan إِنَّ الرَّجُلَ لَيُجَرُّ إِلَى النَّارِ، فَتَنْزَوِي وَيَنْقَبِضُ بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ، فَيَقُولُ لَهَا الرَّحْمَنُ مَا لَكِ؟ فَتَقُولُ إِنَّهُ لَيَسْتَجِيرُ مِنِّي فَيَقُولُ أَرْسِلُوا عَبْدِي وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُجَرُّ إِلَى النَّارِ، فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا كَانَ هَذَا الظَّنَّ بِكَ فَيَقُولُ فَمَا كَانَ ظَنُّكَ؟ فَيَقُولُ أَنْ تَسَعَنِيَ رَحْمَتُكَ قَالَ فَيَقُولُ أَرْسِلُوا عَبْدِي وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُجَرُّ إِلَى النَّارِ فَتَشْهَقُ إِلَيْهِ النَّارُ شُهُوقَ الْبَغْلَةِ إِلَى الشَّعِيرِ, وَتَزْفَرُ زَفْرَةً لَا يَبْقَى أحَدٌ إِلَّا خَافَ Artinya “Ada seorang laki-laki yang diseret ke dalam neraka. Namun, nereka malah menjauhkan diri dan bagian-bagiannya menciut satu sama lain. Allah Yang Maha-Rahman bertanya kepada neraka, Apa yang terjadi padamu?’ Nereka menjawab, Laki-laki itu selalu memohon perlindungan pada-Mu agar selamat dariku.’ Kemudian, Allah berfirman kepada para malaikat, Bebaskanlah hamba-Ku itu.’ Selanjutnya, ada lagi laki-laki yang tengah diseret ke neraka. Saat diseret, dia berkata, Ya Tuhanku, bukankah ini prasangka baik pada-Mu.’ Allah lalu bertanya, Apa prasangka baikmu?’ Dia menjawab, Rahmat-Mu akan meliputiku.’ Maka Allah kembali berfirman kepada para malaikat, Bebaskanlah hamba-Ku.’ Terakhir, ada lagi laki-laki yang diseret ke dalam neraka, tapi nereka malah berteriak melengking kepadanya tak beda dengan seperti tarikan bigal saat melihat gandum, lalu meringkik dengan keras tatkala semua orang di sana ketakutan.” Hadits di atas mengabarkan kepada kita tentang keadaan tiga orang laki-laki yang diseret ke dalam neraka pada hari Kiamat. Namun, yang dua orang berhasil selamat. Yang pertama selamat karena selalu memohon perlindungan kepada Allah. Yang kedua selamat karena prasangka baiknya kepada Allah. Dan yang ketiga celaka karena dibinasakan oleh dosa dan kemaksiatannya sendiri. Saat laki-laki pertama diseret, neraka justru menjauhkan diri dan menciut. Maka Allah bertanya kepada neraka mengapa ia menjauhkan diri dan menciut dari laki-laki itu. Tentu, Allah maha tahu tentang alasannya. Maka neraka menjawab, “Karena dia senantiasa memohon perlindungan pada-Mu dariku.” Melihat keadaan itu, Allah berfirman kepada para malaikat, “Bebaskan saja hamba-Ku itu.” Akhirnya laki-laki yang pertama selamat dari neraka. Kemudian laki-laki yang kedua saat diseret para malaikat ke dalam neraka, berdoa, “Ya Tuhanku, bukankah ini prasangka baik pada-Mu?” Maka Allah menjawab, “Apa prasangkia baikmu?” Si laki-laki menjawab, “Rahmat-Mu akan meliputiku.” Mendengar demikian, Allah berfirman lagi kepada para malaikat, “Lepaskanlah hamba-Ku.” Sungguh hamba itu telah ditunjukkan kepada jawaban yang baik. Sehingga berkat jawaban dan prasangka baiknya kepada Allah, dia diselamatkan dan selamat dari neraka. Sementara pada saat diseret malaikat, laki-laki yang ketiga tidak melakukan seperti yang dilakukan dua orang laki-laki lainnya. Begitu melihat laki-laki itu didekatkan kepadanya, neraka malah melengking dan meringkik tak ubahnya teriakan seekor keledai saat melihat pakan, sampai-sampai teriakan dan ringkikannya nyaris mencopotkan jantung siapa pun yang mendengarnya. Kondisi itu seperti yang telah dibenarkan dalam Al-Qur'an "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya," QS al-Furqan [25] 12. Baca juga Dari kisah hadits di atas, dapat ditarik beberapa beberapa pesan dan perlajaran. Pertama, orang-orang mukmin yang bermaksiat akan dijebloskan ke dalam neraka. Namun, sebagian dari mereka ada yang selamat dan tidak jadi dimasukkan ke dalamnya. Contohnya seperti kedua laki-laki yang dikisahkan di atas. Kedua, memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah sangat berguna di dunia dan di akhirat. Allah akan melindungi dan menjaga orang yang senantiasa memohon perlindungan-Nya. Ketiga, berbaik sangka kepada Allah termasuk perkara yang akan menyelamatkan seorang hamba dari kesengsaraan dan kebinasaan, terutama pada saat-saat yang genting ketika ia tak lagi punya pilihan kecuali berbaik sangka pada-Nya, seperti pada saat kematian dan hari Kiamat. Keempat, nash hadits di atas mengindikasikan bahwa neraka senantiasa melihat dan memperhatikan sedari jauh para penghuni yang datang kepadanya. Neraka juga memiliki lisan untuk bicara. Bahkan, neraka juga bisa geram dan sangat menantikan para penghuninya. Dalam Sunan al-Tirmidzi dengan sanad sahih dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari Kiamat leher neraka akan keluar. Ia memiliki dua mata yang bisa melihat, dua telinga yang bisa mendengar, dan lisan yang bisa bicara. Lisan itu berkata, 'Aku dipercaya menghadapi tiga golongan penguasa semena-mena dan menentang, orang yang berdoa bersama tuhan lain muyrik, dan orang yang suka menggambar patung',” HR al-Tirmidzi. Naudzu billah. Marilah kita berlindung kepada Allah dari siksa neraka yang amat pedih. Wallahu a’lam. Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.
Halini sebagaimana keterangan yang ada dalam hadits tentang pengaruh yang dilakukan kedua orang tua terhadap anaknya yang menjadikan si anak beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi. ta'ala sudah mengetahui dan menetapkan bahwa si hamba termasuk orang yang bahagia dengan beroleh surga atau termasuk orang yang celaka dengan masuk neraka
Masuk surga bisa bersama orang tua kita yang beriman, bahkan kalau anak kurang dalam beramal, keshalihan orang tua akan mengangkat anaknya. Ingat, asalkan beriman dan bertauhid. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ “Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” QS. Ath-Thuur 21 Karena Iman dan Keshalihan Orang Tua Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa di antara kesempurnaan kenikmatan bagi penduduk surga, Allah menghubungkan antara keturunan yang beriman dengan orang tua mereka. Anak-anak tersebut akan dihubungkan dengan orang tuanya dalam keimanan walaupun keimanan anak-anak tersebut kurang, pen.. Lebih-lebih jika anak-anak tersebut memiliki iman yang lebih, tentu akan lebih selamat. Allah akan mengangkat derajat anak-anak tadi sederajat dengan orang tua mereka, walaupun keimanan mereka tidak bisa menggapai orang tuanya. Itulah balasan untuk orang tua mereka, sebagai karunia juga untuk orang tua mereka. Namun hal tersebut tidaklah membuat Allah mengurangi pahala amalan orang tua mereka. Demikian penjelasan Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya, Taisir Al-Karim Ar-Rahman atau disebut pula Tafsir As-Sa’di. Apa yang Dimaksud Anak Mengikuti dalam Iman? Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thabari dalam sebagian penjelasannya, yang dimaksud adalah mengikuti di atas tauhid dalam beriman. Bagaimana Jika Masuk Neraka? Apakah jika orang tua masuk neraka, anak akan ikut orang tua pula? Ingatlah antara surga dan neraka bukanlah dalam satu hukum yang sama. Neraka adalah tempat ditetapkannya hukum keadilan sedangkan masuk surga itu karena karunia Allah, pen.. Termasuk keadilan adalah Allah akan memberikan hukuman kepada seorang hamba karena dosa. Makanya dikatakan dalam ayat di atas bahwa amalan setiap orang akan tergadai. Artinya, setiap orang tidaklah mewariskan dosa pada lainnya dan seseorang tidaklah memikul dosa lainnya. Lihat penjelasan Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya. Anak Jadi Penyejuk Mata di Surga Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim karya Imam Ibnu Katsir, Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata, “Allah akan mengangkat derajat dari keturunan seorang mukmin, walaupun anak keturunannya kalah dalam beramal. Hal ini punya tujuan untuk jadi penyejuk mata bagi orang tuanya.” Apa Berkah Orang Tua dan Apa Manfaat dari Anak? Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan bahwa ayat ini menunjukkan bagaimanakah berkahnya amal orang tua terhadap anak. Adapun manfaat dari anak terhadap orang tuanya adalah ia terus mendoakan orang tuanya. Ada hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad shahih menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsir ayat ini, “Allah meninggikan derajat seorang hamba yang shalih di surga.” Lantas ia berkata, “Wahai Rabbku, apakah surga ini untukku?” Dijawab, “Engkau masuk surga berkat permintaan ampun dari anakmu untukmu.” Pelajaran yang Dipetik Anak akan ditolong dengan keshalihan orang tuanya, walau anak tersebut belum bisa menyamai keimanan orang tua. Berkah dari orang tua yang beriman dan shalih adalah bisa mengangkat derajat anaknya di surga sehingga sama derajatnya dengan orang tua. Berkah dari anak shalih adalah selalu mendoakan orang tua dengan doa ampunan. Sekeluarga bisa masuk surga dan sederajat asalkan beriman dan bertauhid. Setiap amal manusia tidak akan dikurangi dan disia-siakan. Setiap orang tergadai dengan amalnya, yaitu tidak akan menanggung dosa dari lainnya. Semoga setiap orang tua dibekali keimanan dan kita pun dikaruniai anak yang menjadi penyejuk mata. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad, hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Referensi Tafsir Ath-Thabari karya Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim karya Ibnu Katsir, dan Tafsir As-Sa’di karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, aplikasi di iPad dikeluarkan oleh — Ditulis saat menjelang Shubuh pada penerbangan pulang dengan Saudia Airlines, 13 Shafar 1440 H Senin, 22 Oktober 2018, perjalanan Jeddah – Jakarta Oleh Muhammad Abduh Tuasikal
Kualitasamal itu tidak terputus pahalanya sekalipun dia telah meninggal dunia, selama amalnya masih dimanfaatkan oleh manusia. Jika manusia telah meninggal dunia terputuslah amalnya. Karena tidak bisa bekerja, tidak bisa beramal, tidak bisa berkarya, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jika pekerjaannya terputus konsekuensinya upahnya terputus
Assalamu alaikum wr. terhormat redaksi Bahtsul Masail NU Online. Kami memohon penjelasan tentang hadits riwayat Muslim yang menyatakan bahwa ayah dan ibu Nabi Muhammad SAW masuk neraka. Kami memohon penjelasan hadits ini. Apakah benar di Hari Kiamat ayah dan ibu Nabi Muhammad saw masuk neraka? Terima kasih atas penjelasannya. Wassalamu alaikum wr. wb. Hilmi Qosim MubahJawabanAssalamu alaikum wr. dan pembaca yang budiman di mana pun berada. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya untuk kita semua. Sebelum berbicara lebih jauh kita terlebih dahulu menyebutkan hadits riwayat Imam Muslim yang menunjukkan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk penduduk neraka kelak di setidaknya menemukan dua hadits yang diriwayatkan di dalam kitab Jamuis Shahih Muslim terkait masalah ini. Hadits pertama diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik. Hadits kedua diriwayatkan Sahabat Abu Hurairah RA. Hadits riwayat Anas bin Malik RA menceritakan sebagai رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللّهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ فِي النّارِ. فَلَمّا قَفّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النّارِArtinya, "Salah seorang sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, di manakah kini ayahku?’ Nabi Muhammad SAW menjawab, Di neraka.’ Ketika orang itu berpaling untuk pergi, Nabi Muhammad SAW memanggilnya lalu berkata, Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka,’” HR Muslim.Sementara hadits riwayat Abu Hurairah RA menyebutkan sebagai النّبِيّ صلى الله عليه وسلم قَبْرَ أُمّهِ. فَبَكَىَ وَأَبْكَىَ مَنْ حَوْلَهُ. فَقَالَ اسْتَأْذَنْتُ رَبّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأذِنَ لِيArtinya, "Nabi Muhammad SAW menziarahi makam ibunya. Di sana Beliau SAW menangis sehingga para sahabat di sekitarnya turut menangis. Rasulullah SAW mengatakan, Kepada Allah Aku sudah meminta izin untuk memintakan ampun bagi ibuku, tetapi Allah tidak mengizinkanku. Lalu Aku meminta kepada-Nya agar Aku diizinkan menziarahi makam ibuku, alhamdulillah Dia mengizinkanku," HR Muslim.Secara harfiah pemahaman yang kita dapati dari keterangan dua hadits di atas menujukkan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk ke dalam penghuni neraka. Tetapi sebenarnya ulama baik dari kalangan ahli hadits maupun kalangan ahli kalam berbeda pendapat perihal ini. Di antara ulama yang memaknai hadits ini secara harfiah adalah Imam An-Nawawi. Dalam kitab Syarah Muslim yang ditulisnya menunjukkan secara jelas posisinya seperti keterangan berikut أن رجلا قال يا رسول الله أين أبي قال في النار فلما قفى دعاه فقال إن أبي وأباك في النار فيه أن من مات على الكفر فهو في النار ولا تنفعه قرابة المقربين وفيه أن من مات في الفترة على ما كانت عليه العرب من عبادة الأوثان فهو من أهل النار وليس هذا مؤاخذة قبل بلوغ الدعوة فان هؤلاء كانت قد بلغتهم دعوة ابراهيم وغيره من الأنبياء صلوات الله تعالى وسلامه عليهم وقوله صلى الله عليه و سلم أن أبي وأباك في النار هو من حسن العشرة للتسلية بالاشتراك في المصيبة ومعنى قوله صلى الله عليه و سلم قفي ولى قفاه منصرفا Artinya, “Pengertian hadits Seorang lelaki bertanya, Wahai Rasulullah, di manakah kini ayahku?’ dan seterusnya, menunjukkan bahwa orang yang meninggal dalam keadaan kufur bertempat di neraka. Kedekatan kerabat muslim tidak akan memberikan manfaat bagi mereka yang mati dalam keadaan kafir. Hadits ini juga menunjukkan bahwa mereka yang meninggal dunia di masa fatrah masa kosong kehadiran rasul dalam keadaan musyrik yakni menyembah berhala sebagaimana kondisi masyarakat Arab ketika itu, tergolong ahli neraka. Kondisi fatrah ini bukan berarti dakwah belum sampai kepada mereka. Karena sungguh dakwah Nabi Ibrahim AS, dan para nabi lainnya telah sampai kepada mereka. Sedangkan ungkapan Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka’ merupakan ungkapan solidaritas dan empati Rasulullah SAW yang sama-sama terkena musibah seperti yang dialami sahabatnya perihal nasib orang tua keduanya. Ungkapan Rasulullah SAW Ketika orang itu berpaling untuk pergi’ bermakna beranjak meninggalkan Rasulullah SAW.” lihat Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj, Dar Ihyait Turats Al-Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1392 H. Sementara ulama lain menilai hadits ini telah dimansukh direvisi oleh riwayat Sayidatina Aisyah RA. Dengan demikian kedua orang tua Rasulullah SAW terbebas sebagai penghuni neraka seperti keterangan hadits yang telah dimansukh. Salah satu ulama yang mengambil posisi ini adalah Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam karyanya Ad-Dibaj Syarah Shahih Muslim Ibnil أبو بكر بن أبي شيبة وزهير بن حرب قالا حدثنا محمد بن عبيد عن يزيد بن كيسان عن أبي حازم عن أبي هريرة قال زار النبي صلى الله عليه و سلم قبر أمه الحديث قال النووي هذا الحديث وجد في رواية أبي العلاء بن ماهان لأهل المغرب ولم يوجد في روايات بلادنا من جهة عبد الغافر الفارسي ولكنه يوجد في أكثر الأصول في آخر كتاب الجنائز ويضبب عليه وربما كتب في الحاشية ورواه أبو داود والنسائي وابن ماجة قلت قد ذكر بن شاهين في كتاب الناسخ والمنسوخ أن هذا الحديث ونحوه منسوخ بحديث إحيائها حتى آمنت به وردها الله وذلك في حجة الوداع ولي في المسألة سبع مؤلفات Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW menziarahi makam ibunya dan seterusnya. Menurut Imam An-Nawawi, Hadits ini terdapat pada riwayat Abul Ala bin Mahan penduduk Maghrib, tetapi tidak terdapat pada riwayat orang-orang desa kami dari riwayat Abdul Ghafir Al-Farisi. Namun demikian hadits ini terdapat di kebanyakan ushul pada akhir Bab Jenazah dan disimpan. Tetapi terkadang ditulis di dalam catatan tambahan. Hadits ini diiwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.’ Hemat saya jelas, Ibnu Syahin menyebutkan di dalam kitab Nasikh dan Mansukh bahwa hadits ini dan hadits yang semakna dengannya telah dimansukh oleh hadits yang menerangkan bahwa Allah menghidupkan kembali ibu Rasulullah sehingga ia beriman kepada anaknya, lalu Allah mewafatkannya kembali. Ini terjadi pada Haji Wada’. Perihal masalah ini saya telah menulis tujuh kitab,” Lihat Abdurrahman bin Abu Bakar, Abul Fadhl, Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Dibaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj.Kalangan ahli kalam juga membicarakan perihal ahli fatrah. Menurut kalangan Muktazilah dan sebagian ulama Maturidiyah, orang-orang ahli fatrah yang wafat dalam keadaan musyrik termasuk penghuni neraka. Karena bagi mereka, manusia tanpa diutus seorang rasul sekalipun semestinya memilih tauhid melalui daya akal yang dianugerahkan Allah kalangan Asy-ari menempatkan ahli fatrah sebagai kalangan yang terbebas dari tuntutan tauhid karena tidak ada rasul yang membimbing mereka. Berikut ini perbedaan pendapat yang bisa kami هل يكتفي بدعوة أي رسول كان ولو آدم أو لا بد من دعوة الرسول الذي أرسل إلى هذا الشخص. والصحيح الثاني. وعليه فأهل الفترة ناجون وإن غيروا و بدلوا وعبدوا الأوثان. وإذا علمت أن أهل الفترة ناجون علمت أن أبويه صلى الله عليه وسلم ناجيان لكونهما من أهل الفترة بل هما من أهل الإسلام لما روي أن الله تعالى أحياهما بعد بعثة النبي صلى الله عليه وسلم فآمنا به... ولعل هذا الحديث صح عند بعض أهل الحقيقة... وقد ألف الجلال السيوطي مؤلفات فيما يتعلق بنجاتهما فجزاه الله “Ulama berbeda pendapat perihal ahli fatrah. Apakah kehadiran rasul yang mana saja sekalipun Nabi Adam AS yang jauh sekali dianggap cukup bahwa dakwah telah sampai bagi masyarakat musyrik Mekkah atau mengharuskan rasul secara khusus yang berdakwah kepada kaum tertentu? Menurut kami, yang shahih adalah pendapat kedua. Atas dasar itu, ahli fatrah selamat dari siksa neraka meskipun mereka mengubah dan mengganti keyakinan mereka, lalu menyembah berhala. Kalau ahli fatrah itu terbebas dari siksa neraka, tentu kita yakin bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari neraka karena keduanya termasuk ahli fatrah. Bahkan keduanya termasuk pemeluk Islam berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Allah menghidupkan keduanya setelah Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai rasul sehingga keduanya berkesempatan mengucapkan dua kalimat syahadat. Riwayat hadits ini shahih menurut sebagian ahli hakikat. Syekh Jalaluddin As-Suyuthi menulis sejumlah kitab terkait keselamatan kedua orang tua Rasulullah SAW di akhirat. Semoga Allah membalas kebaikan Syekh Jalaluddin atas karyanya,” Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Baijuri ala Matnis Sanusiyyah, Dar Ihya’il Kutub Al-Arabiyyah, Indonesia, Halaman 14.Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam karyanya Nuruz Zhalam Syarah Aqidatil Awam menegaskan sebagai الباجوري فالحق الذي نلقى الله عليه أن أبويه صلى الله عليه وسلم ناجيان على أنه قيل أنه تعالى أحياهما حتي آمنا به ثم أماتهما لحديث ورد في ذلك وهو ما روي عن عروة عن عائشة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سأل ربه أن يحيي له أبويه فأحياهما فآمنا به ثم أماتهما. قال السهيلي والله قادر على كل شيء له أن يخص نبيه بما شاء من فضله وينعم عليه بما شاء من “Syekh Ibrahim Al-Baijuri mengatakan, Yang benar adalah bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari siksa neraka berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Allah SWT menghidupkan kembali kedua orang tua Rasulullah SAW sehingga keduanya beriman kepada anaknya, lalu Allah SWT mewafatkan kembali keduanya. Sebuah riwayat hadits dari Urwah dari Sayidatina Aisyah RA menyebutkan bahwa Rasululah SAW memohon kepada Allah SWT untuk menghidupkan kedua orang tuanya sehingga keduanya beriman kepada anaknya, lalu Allah SWT mewafatkan kembali keduanya. As-Suhaili berkata bahwa Allah maha kuasa atas segala sesuatu, termasuk mengistimewakan karunia-Nya dan melimpahkan nikmat-Nya kepada kekasih-Nya Rasulullah SAW sesuai kehendak-Nya,” Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Syarah Nuruzh Zhalam ala Aqidatil Awam, Karya Toha Putra, Semarang, Tanpa Tahun, Halaman 27.Dari dua pandangan ulama di atas, Penulis lebih cenderung pada pendapat yang mengatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk kalangan muslim dan golongan orang-orang yang beriman. Karena sah menurut akal ja’iz aqli bahwa Allah SWT mengabulkan permintaan Rasulullah SAW memandang pangkat kekasih-Nya yang begitu agung dan mulia itu di sisi-Nya dan begitu luasnya kemurahan Allah itu sendiri. Wallahu a’lam bis jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami jangan sampai perbedaan pendapat dalam masalah ini menyebabkan kita saling menyalahkan satu sama lain atau bahkan meremehkan ulama besar yang berbeda pendapat dengan kita. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para muwaffiq ila aqwamith thariqWassalamu ’alaikum wr. wb.Alhafiz Kurniawan
AtTaubah: 28) Kelima: Jika ada kerabatnya yang meninggal, maka ia tidak boleh ikut serta dalam warisan. Misalnya, ada seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan seorang anak yang tidak shalat. Orang yang meninggal itu seorang Muslim yang shalat, sementara si anak itu tidak shalat, di samping itu ada juga sepupunya.
. nme9stuhfd.pages.dev/362nme9stuhfd.pages.dev/49nme9stuhfd.pages.dev/232nme9stuhfd.pages.dev/354nme9stuhfd.pages.dev/139nme9stuhfd.pages.dev/458nme9stuhfd.pages.dev/251nme9stuhfd.pages.dev/208
hadits orang tua masuk neraka karena anaknya